SANUR-Penampilan Musik dari Bona Alit benar – benar memikat pengunjung di arena Sanur Village Festival ke- 3 di hari ke empat, Sabtu malam lalu. Pemusik handal Indonesia yang mengusung ciri khas musik nan unik dan eksotik telah banyak digandrungi penikmat seni. Tampilnya Bona Alit untuk ke dua kalinya dalam ajang ini merupakan pertunjukan yang dinanti – nanti dalam menyemarakkan dan melengkapi keistimewaan Sanur Village Festival ke -3, sebagai salah satu perhelatan yang mengangkat budaya tradisional sebagai keanekaragaman khasanah bangsa.
Mengenal sosok I Gusti Ngurah Adi Putra (Agung Alit Bona), pria kelahiran 8 Mei 1962 putra dari seniman I Gusti Gede Rai (seorang maestro tari kecak yang dikenal dekat dengan Walter Spies) adalah Pemilik sanggar Bona Alit. Sanggar Bona Alit telah beberapa kali tampil di ajang Internasional antara lain di Hongkong, Jepang, dan Beijing (Cina). Bahkan Agung Alit sendiri diminta sebagai dosen luar biasa (bidang etnomusikologi) di beberapa kampus di negara-negara tersebut.
Kelugasan Gung Alit bersama anggota sanggarnya, juga telah mampu melahirkan daya pikat wisatawan mancanegara. Sanggar Bona Alit, pernah tampil dalam misi sosial menghibur pasien, di RSJ Bangli dan LP Jawa-Bali pada tahun 1989 serta pementasan Drama Tari Calon Arang di Lembah Putih Solo, Jawa Tengah di tahun yang sama. Sanggar Bona Alit, juga pernah ikut pentas dalam “Beijing Modern Art Festifal” pada tgl 23-29 Mei lalu, Sanggar Bona Alit, dengan 17 personilnya berada di Beijing mengikuti event yang diikuti berbagai negara di dunia.
Di tempat yang sama I Wayan Balawan, salah satu musisi jazz nasional kelahiran 9 September 1973 di Gianyar, Bali, tampil dengan mengkolaborasikan instrument moderen dengan instrument tradisional Bali . Penonton yang memadati main stage di SVF benar-benar terpukau dengan aksi si “magic finger”.
Sambil bersantap malam dengan ratusan menu lokal hingga internasional, masakan Bali hingga Rusia. Malam tersebut pengung SVF sangat penuh seperti malam-malam sebelumnya. Ribuan orang sengaja datang untuk mencicipi makanan dan menonton hiburan sejumlah artis. Tepuk tangan dan teriakan penonton menyeruak malam ketika Balawan memainkan keahlian tangannya memetik senar gitar.
Dalam penampilannya itu, Balawan membawakan beberapa lagu ciptaan sendiri maupun lagu-lagu dari musisi mancanegara. Dan, yang tak kalah menarik pria yang menggunakan tapping technique (Tehnik bermain gitar dengan menggunakan delapan jari, mirip seperti bermain piano) ini membawakan sebuah lagu “Cinta Ini Membunuhku” dari musisi atau group band nasional D'Masiv yang diekplorasi ke dalam jenis music jazz. Disamping itu,Balawan juga mendapat applause luar biasa dari penonton atau penggunjung saat berkolaborasi dengan mengeksplorasi musik tradisional Bali .
Sekedar gambaran, nama Belawan mencuat dan dijadikan salah satu musisi yang terkenal dengan tehnik memainkan delapan jari yang belum banyak di Indonesia . Balawan mulai bermain gamelan pada usia delapan tahun dan mulai belajar gitar pada usia dua belas tahun. Pada tahun 1993, Balawan mendapat beasiswa untuk belajar di Australian Institute of Music di Sydney selama 3 tahun. Sekembalinya dari Australia tahun 1997, Balawan kemudian membentuk kelompok ‘Batuan Ethnic Fusion' yang mengeksplorasi musik tradisional Bali . Bersama kelompoknya, Belawan sering tampil secara regular baik di Bali maupun di luar Bali , seperti tampil di even besar tahunan SVF kali ini. |